- Buka Peluang Kerja Baru Kemnaker Gandeng TikTok, Dorong Talenta Ekonomi Digital
- Petikemas Internasional Dongkrak Kinerja Terminal Teluk Lamong 4,5%
- Transformasi Terminal Dongkrak Arus Peti Kemas di TPK Sorong 10% Pada Triwulan I 2026
- KRI Bima Suci Bawa Taruna AAL dan Cadet Asean Tiba di Colombo, Misi Diplomasi Kartika Jala Krida 2026
- Heboh Pulau Umang di Banten Dijual Rp65 Miliar, KKP: Langsung Kami Segel
- Taklukkan Medan Sulit Samudra Atlantik, KRI Conapus-936 Sandar di Afrika Selatan
- Layanan Pelindo Masa Angkutan Lebaran 2026 Tembus 2,6 Juta Penumpang, Meningkat 24 %
- PELNI dan Meratus Line Perluas Kerja Sama Strategis Program Tol Laut
- Kapal Perang Fregat Angkatan Laut Thailand Singgah di Surabaya, Ini Kekuatannya
- Yuhuu... 441 Riders Cilik Bersaing Ketat di Kejurnas Push Bike Race Kapten Morgan Tahun 2026
Duh.. Pengadaan Gerobak UMKM Dikorupsi, Bareskrim Sita Duit Rp900 Juta dan 11 Mobil

Keterangan Gambar : Gedung Bareskrim Polri. Foto: ist
Indonesiamaritimenews.com (IMN), JAKARTA: Bareskrim Polri terus mengusut dugaan korupsi pengadaan gerobak usaha mikro kecil menengah (UMKM) di Kementerian Perdagangan (Kemendag) tahun anggaran (TA) 2018 dan 2019.
Direktorat Tindak Pidana Korupsi (Dittipidkor) Bareskrim Polri telah menggeledah dan menyita sejumlah aset milik dua tersangka, Putu Indra dan Budaya Priambudi. Barang bukti yang disita yakni uang Rp900 juta dan 11 unit mobil.
Sebagai catatan, Putu Indra Wijaya pernah menjabat Kepala Bagian (Kabag) Keuangan Setditjen PDN Kemendag RI. Sedangkan dan Bunaya Priambudi adalah Kepala Sub-Bagian (Kasubag) Tata Usaha Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri (DJPDN) Kemendag.
Baca Lainnya :
- Syahrul Yasin Limpo Batal Diperiksa KPK, Izin Pulang Kampung Nengok Ibunda 0
- Sah! BIMA Kini Anak Perusahaan SPMJ, Ini Bisnis yang Dikelola0
- Sah! 16 BUMN Dapat Suntikan Dana PMN, Ini Daftarnya0
- Hari Pelindo 2023, Donor Darah di Pelabuhan Terbanyak Raih Rekor MURI0
- Catatan 2 Tahun Merger Pelindo, Peluncuran PTOS-M hingga Digitalisasi Pelabuhan0
Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Humas Polri Brigjen Ahmad Ramadhan pada Rabu (11/10/2023) menjelaskan, penggeledahan dilakukan di rumah dan kantor kedua tersangka.
"Pengeledahan terhadap rumah dan kantor di antaranya Kantor Kemendag RI di Jakarta, Kantor PT Arjuna Putra Bangsa di Pontianak Kalimantan Barat, Rumah Tersangka PIW di Jakarta Timur," ungkap Ramadhan.
Di rumah Putu Indra, petugas menyita uang tunai Rp 922 juta. Kemudian, disita juga 11 kendaraan roda empat dan enam kendaraan roda dua, serta sebidang tanah seluas 300 meter persegi dan seluas 45 meter persegi.
Sebidang tanah dan bangunan berupa rumah atas nama DH, istri Putu, juga disita. Barang bukti lainnya yaknin peralatan bengkel Putu dan dokumen lelang, dokumen kontrak, dokumen pembayaran juga disita.
Sedangkan dari tersangka Bunaya polisi menyita uang tunai Rp240 juta dan mata uang dolar Amerika Serikat senilai USD 30.000 juga disita. Barang bukti lainnya yakni sejumlah dokumen lelang, dokumen kontrak, dokumen pembayaran, serta sejumlah gerobak. Rinciannya, Gerobak Tipe 1 (gerobak souvernir) 64 unit dan Gerobak Tipe 2 (gerobak bakso) sebanyak 52 unit.
TIDAK SESUAI KONTRAK
Sementara itu Direktur Tindak Pidana Korupsi (Dirtipidkor) Bareskrim Polri, Brigjen Cahyono Wibowo mengatakan kedua tersangka tidak berkaitan ataupun bekerja sama dalam melakukan dugaan tindak korupsi tersebut.
“Jadi tersangka yang 2018 (Putu) dan 2019 (Bunaya) tidak berkaitan. Jadi peristiwa itu tempusnya (waktu terjadinya tindak pidana) berdiri sendiri. Tetapi untuk pelaksana perkerjaan ini satu pihak,” jelas Cahyono. Kasus dugaan korupsi ini diduga merugikan negara sebesar Rp 39 miliar.
Seperti diketahui, kedua tersangka adalah pejabat pembuat komitmen (PPK) dalam proyek pengadaan gerobak di lingkungan Kemendag.
Pada tahun 2018, sebanyak 7.200 gerobak seharusnya dibagikan kepada masyarakat. Namun, kontrak tersebut tidak diselesaikan, dan dikerjakan hanya 2.500 unit saja. Sisanya 4.700 unit tidak bisa dipertanggungjawabkan PPK dan perusahaan penyedia. Kerugian negara dengan tersangja Putu, sekitar Rp30 miliar. Sedangkan kerugian akibat perbuatan Bunaya sekitar Rp9 miliar.
Polisi menyebut, tersangka Putu diduga menerima suap Rp820 juta dan tersangka Bunaya menerima suap sekitar Rp 1,1 miliar dari pihak ketiga. Kedua tersangka dijerat Pasal 2 Ayat (1) dan/atau Pasal 3 dan/atau perbuatan menerima hadiah atau janji untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 atau (2) atau Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11 UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). (Bow/Oryza)











