Gunung Anak Krakatau Erupsi Muntahkan Lava Pijar, Warga Pesisir Banten Panik

By Indonesia Maritime News 05 Sep 2026, 10:33:38 WIB News
Gunung Anak Krakatau Erupsi Muntahkan Lava Pijar, Warga Pesisir Banten Panik

Keterangan Gambar : Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi sejak Jumat (4/9/2026) malam. Foto: ist


Indonesiamaritimenews.com (IMN), JAKARTA: Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi sejak Jumat (4/9/2026) malam. Aktivitas gunung di Selat Sunda ini menimbulkan suara dentuman kencang serta muntahan lava pijar.

Dentuman disertai getaran dirasakan oleh warga pesisir Banten pada Senin (5/9/2029) subuh sekitar pukul 05.15. Warga Kecamatan Labuan dan Carita, Kabupaten Pandeglang dan di daerah lainnya sempat panik mendengar suara dentuman disertai getaran.

Ahmad, warga Labuan mengatakan warga keluar rumah karena panik dan khawatir ada gempa. "Kita khawatir ada gempa. Apalagi di NTT kan baru terjadi gempa. Jadi warga panik waktu ada getaran," kata pria 45 tahun ini.

Baca Lainnya :

Getaran tersebut menurut Ahmad membuat benda-benda di dalam rumah bergoyang. Ahmad mengatakan, getaran yang dirasakan tidak seperti guncangan gempa. Namun warga tetap saja panik bahkan bersiap mencari perlindungan.

Lain lagi dengan cerita Agus, warga Cilegon, Banten. Pria 55 tahun ini mengaku sama sekali tidak mendengar suara dentuman ataupun getaran. Dia dan keluarganya mengetahui Gunung Anak Krakatau Erupsi dari media sosial dan televisi.

"Kami dapat beritanya (erupsi Krakatau) dari tayangan televisi dan medsos," ujar Agus saat dihubungi indonesiamaritimenews.com soal erupsi Anak Krakatau.

Sementara itu Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyatakan aktivitas Anak Krakatau belum berpotensi menimbulkan tsunami. Pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau pascaerupsi 22 Desember 2018 juga dinilai masih relatif kecil.

Hal ini dikatakan oleh Kepala PVMBG Kementerian ESDM, Rita Susilawati, mengatakan pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau pascaerupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil.

"Berdasarkan hasil evaluasi hingga saat ini, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau pasca-erupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan skala besar yang dapat memicu tsunami," jelas Rita.

PVMBG tetap meminta masyarakat untuk tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau pada radius 3 kilometer dari pusat aktivitas untuk mencegah peristiwa yang membahayakan. Karena lava pijar dan lava air mancur (lava fountain) yang disemburkan dari perut Gunung Anak Krakatau dapat membahayakan warga. Saat ini, Gunung Anak Krakatau masuk kategori Level III atau Siaga. (Riz/Mar)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook