- Dilepas Kasal, Wamendag, Wamen UMKM: KRI Bima Suci Bawa Taruna AAL dan Cadet ASEAN Keliling 8 Negara
- PM Takaichi: Jepang-Indonesia Siap Perkuat Ekonomi, Maritim dan
- Wakasal Pimpin Deck Reception Taruna AAL dan ASEAN Plus Cadet Sail di Geladak KRI Bima Suci
- Gala Premiere The Hostages Hero, Kisah Nyata Heroisme Prajurit TNI AL
- Disambut Kodaeral III, 3 Kapal Perang Rusia Merapat di Tanjung Priok, Ada Apa ?
- Arus Balik Lebaran Melonjak, Sehari PELNI Layani 27 Ribu Penumpang
- Serunya HBH PWI Jaya, Potluck 50 Menu dari Bakso, Lupis, Pempek hingga Pisang Rebus Bikin Ngiler
- Geliat Angkutan Lebaran, 147,55 Juta Orang Lakukan Perjalanan, Lebih Separuh dari Jumlah Penduduk
- Arus Balik di Tol Trans Jawa Lancar, Menhub: 2,9 Juta Kendaraan Sudah Masuk Jakarta
- 651.000 Penumpang dan 169.000 Kendaraan Otewe Pulau Jawa, Arus Mudik Bakauheni Merak Lancar
Indonesia Koordinir 11 Negara Sepakati Program Perikanan Berkelanjutan

Keterangan Gambar : Laksamana Muda TNI Dr. Adin Nurawaluddin (kanan). Foto; dok. KKP
Indonesiamaritimenews.com (IMN),JAKARTA : Indonesia berhasil mengoordinasikan program perikanan berkelanjutan yang telah disepakati dengan 11 negara anggota Regional Plan of Action to Combat Illegal, Unreported and Unregulated Fishing (RPOA-IUU).
Dalam rilis tertulis Kementerian Kelautan dan perikanan (KKP) Minggu (4/12/2022) disebutkan beberapa program yang disepakati di antaranya rencana penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM), pelatihan atau workshop, penyusunan kurikulum dan pelatihan MCS. Selain itu, negara-negara anggota RPOA-IUU juga sepakat mengadopsi dokumen terkait tindakan terhadap kapal tanpa kebangsaan serta draft pernyataan bersama tingkat Menteri.
Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Laksamana Muda TNI Dr. Adin Nurawaluddin, M. Han mewakili Sekretariat RPOA-IUU menyampaikan apresiasinya kepada kesebelas negara tersebut di acara The 15th Coordination Committee Meeting (CCM) RPOA-IUU yang digelar di Fremantle – Perth Australia, 22-24 November 2022.
Baca Lainnya :
- 3 Jenazah Jatuhnya Helikopter Polri Ditemukan, Kapolri: Almarhum Gugur Dalam Tugas0
- Ini Survey Meningkatkan Palayanan Pelabuhan Pontianak,Berbagai Progress dan Pencegahan Korupsi0
- Pelabuhan Pontianak Jadikan Pelanggan Konsultan Mengevaluasi Pelayanan Jasa & Survei Pelanggan0
- Bantu Air Bersih Korban Gempa Cianjur, Badan Geologi Bangun 19 Titik Sumur Bor0
- Awal 2023 Resesi Global, Presiden Jokowi: Semua Harus Hati-hati0
Apresiasi ini disampaikan atas dukungan dan kerja sama yang terus terjalin dalam mengimplementasikan RPOA-IUU core elements sebagai dasar dalam mendukung upaya tata kelola perikanan berkelanjutan dan bertanggung jawab.
“Dalam kurun dua tahun terakhir, RPOA-IUU telah menunjukkan adanya kemajuan yang signifikan dalam mencapai pengelolaan sumber daya perikanan yang bertanggung jawab”, ucap Adin.
Adin menyampaikan bahwa seluruh negara yang hadir dalam forum RPOA-IUU CCM telah menyepakati Rencana Kerja Tahun 2023 atau RPOA-IUU Work Plan 2023 dan dokumen Recommendation on Vessel Without Nationality serta dokumen Joint Ministerial Statement yang rencananya akan disahkan oleh seluruh Menteri di bidang perikanan dalam Ministerial Meeting tahun 2023.
"Kita berharap dokumen Joint Ministerial Statement yang menyatakan dukungan seluruh menteri negara partisipan RPOA-IUu di bidang perikanan dapat disahkan pada Ministerial Meeting tahun 2023, yang rencananya akan digelar di Indonesia", terang Adin.
KOMINTMEN PERANGI IUU Dalam forum RPOA-IUU CCM tersebut, Pemerintah Indonesia menyampaikan komitmennya untuk terus memerangi IUU Fishing melalui program Ekonomi Biru. Salah satu implementasi program Ekonomi Biru diwujudkan melalui kebijakan penangkapan ikan terukur, di mana proses penangkapan ikan dari hulu ke hilir dilakukan secara legal dan berkelanjutan.
“Selaras dengan semangat dan tujuan RPOA-IUU, Indonesia tengah menggenjot lima program prioritas implementasi Ekonomi Biru untuk mewujudkan tata kelola perikanan yang berkelanjutan”, lanjut Adin.
Pertemuan ini dihadiri oleh perwakilan dari 11 negara peserta (participating countries) RPOA-IUU, di antaranya: Australia, Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Singapura, Timor Leste, Vietnam, Filipina dan Thailand. Selain itu, pertemuan ini juga dihadiri oleh Advisory Bodies yang terdiri dari FAO Roma, InfoFish dan SEAFDEC, serta organisasi pemantau (observer) yang meliputi NOAA, CSIRO, ATSEA-2, dan USAID SuFIA TS.
Untuk diketahui, Indonesia merupakan sekretariat RPOA-IUU, suatu forum kerja sama regional yang disepakati di Bali-Indonesia pada tanggal 4 Mei 2007 oleh para menteri yang membidangi perikanan. Mereka mewakili 11 negara (Australia, Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Filipina, Singapura, Timor Leste, Thailand, dan Vietnam). Kerjasama ini sebagai bentuk komitmen regional terhadap penangkapan ikan yang bertanggung jawab dan memerangi penangkapan ikan secara ilegal, tidak diatur, dan tidak dilaporkan (IUU fishing). (Riz/Oryza)











