- Lanal Lampung Bekali Materi Bela Negara, Tanamkan Displin Siswa SMAN 11 Bandar Lampung
- TPK Koja Pastikan Operasional dan Pelayanan Terminal Tetap Lancar dan Terjaga Saat Pekerja Sampaikan Aspirasi
- 13 Hari Hilang di Laut, Rachmad Ditemukan Terdampar di Pulau Republik Palau
- Menteri Trenggono Pastikan 6 Program Prioritas Bawa Manfaat bagi Masyarakat, Apa Saja ?
- Perangi Narkoba, Pelindo Regional 2 dan BNN Jakarta Utara Gelar Sobat Ananda Bersinar di SMAN 80 Jakarta
- 3 Bayi Buaya Langka Sinyulong Diamankan KKP dari Permukiman Nelayan, Ini Penampakannya
- Latma DIVEX 2026, Pasukan Katak TNI AL dan Republic of Korea Navy Asah Kemampuan Operasi Bawah Air
- KRI Hiu-634 Angkut Bantuan Kejati NTT, Disalurkan ke Maumere dan Reo
- BKPRMI Jakarta Gelar Pelatihan Pemilahan dan Pengelolaan Sampah di Pulau Pramuka
- KRI Selar-879 TNI AL dan Philippine Navy Siaga Jaga Perbatasan Indonesia dan Filipina
Divonis 1 Tahun 6 Bulan, Bharada Eliezer Menangis, Ruang Sidang Didobrak Pengunjung

Keterangan Gambar : Bhrada Richard Eliezer menangis mendengar hakim menjatuhkan vonis 1 tahun 6 bulan penjara. Foto: ist
Indonesiamaritimenews (IMN),JAKARTA: Bharad Eliezer menangis sesunggukan begitu majelis hakim menjatuhkan hukuman 1 tahun 6 bulan penjara atas pembunuhan terhadap Brigadir N Yosua Hutabarat. Sorak sorai menggema, tak lama ruang sidang berantakan setelah didobrak pengunjung yang histeris mendengar putusan hakim.
Drama persidangan pembunuhan Brigadir N Yosua Hutabarat (Brigadir J) berakhir dengan divonisnya Bharada Eliezer dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu (15/2/2023).
Baca Lainnya :
- Kembangkan Angkutan Laut Perintis, Kemenhub Perkuat Kolaborasi dengan Pemda 0
- RSO Didorong Tingkatkan Mutu Implementasi ISPS Code0
- Kasal Berikan Reward Kepada Satker dan Prajurit TNI AL Berprestasi0
- Menhan Prabowo Subianto Serahkan Alpalhankam Buat Korps Marinir TNI AL0
- Divonis 15 Tahun Penjara, Kuat Maruf: Saya Tidak Membunuh0
Pengunjung sidang vonis mantan ajudan Ferdy Sambo, Bharada Richard Eliezer alias Bharada E mendobrak ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel). Ruang sidang itu pun berantakan akibat peristiwa tersebut.
"Mengadili, menyatakan terdakwa Richard Eliezer Pudihang Lumiu terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana turut serta melakukan pembunuhan berencana," kata hakim ketua Wahyu Iman Santoso.
"Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Richard Eliezer Pudihang Lumiu dengan pidana 1 tahun dan 6 bulan penjara," tegas hakim. Majelis juga mengabulkan permohonan pelaku yang bekerja sama atau justice collaborator (JC). "Menetapkan terdakwa sebagai saksi pelaku yang bekerja sama," ujar hakim.
Mendengar itu, Eliezer yang berdiri di hadapan majelis hakim langsung menangis. Tak lama kemudian ia diperintahkan kembali duduk. Tim pengacara Eliezer, antara lain Ronny Talapessy juga ikut menangis.
Putusan majelis hakim disambut sorak sorai pengunjung di luar ruang sidang yang sebagian besar pendukung Eliezer. Vonis ini jauh lebih ringan dari tuntutan jaksa yang meminta Eliezer dihukum 12 tahun penjara.
"Yes! Icad... Icad," teriak pengunjung di luar ruang sidang. " Alhamdulillah hakimnya berani," teriak yag lain. Tak lama kemudian mereka merangsek berebut masuk, hingga kursi dan pembatas ruang sidang berantakan.
Bharada Eliezer dinyatakan bersalah melanggar Pasal 340 KUHP juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. Tidak ada alasan pembenar dan pemaaf untuk Eliezer. Tetapi hakim mengabulkan permohannya sebagai justice collaborator hingga hukumannya diringankan.
Diberitakan indonesiamaritimenews.com sebelumnya, Brigadir Yosua tewas ditembak di rumah dinas Ferdy Sambo di Duren Tiga, Jakarta Selatan, pada Jumat 8 Juli 2022 sore. Terdakwa Bharada Eliezer Pudihang Lumiu (Bharada E) mengaku ia menembak Yosua atas perintah Ferdy Sambo sebagai atasannya yang saat itu menjabat sebagai Kadiv Propam Polri.
Sebagaimana diketahui, Yosua dituduh melecehkan Putri Candrawathi, istri Sambo. Tetapi dalam persidangan tidak ada kasus pelecehan seksual.
Sambo sendiri divonis hukuman mati. Sedangkan Putri diganjar 20 tahun penjara. (Arry/Oryza)











