Menuju 5 Abad Jakarta: Lompatan Peradaban Digital, Kompetisi Global dan Kesiapan SDM

By Indonesia Maritime News 30 Jul 2026, 07:37:39 WIB Sorot
Menuju 5 Abad Jakarta: Lompatan Peradaban Digital, Kompetisi Global dan Kesiapan SDM

Keterangan Gambar : Aktivitas masyarakat Jakarta meramaikan sekitar Bundaran Hotel Indonesia (HI) setiap akhir pekan. Foto: property of indonesiamaritimenews.com


Indonesiamaritimenews.com (IMN): LIMA RATUS  tahun silam, pelabuhan kecil bernama Sunda Kelapa menjadi cikal bakal lahirnya Kota Jakarta. Lompatan sejarah, lima abad kemudian Jakarta kini menjadi kota global, dipenuhi gedung-gedung pencakar langit. Roda kehidupan dan berbagai aktivitas  kini tak luput dari cengkeraman  kemajuan teknologi yang serba digital.

Sejarah mencatat, wilayah Sunda Kelapa direbut dari tangan Portugis oleh Pangeran Fatahillah pada 22 Juni 1527 dan diberi nama Jayakarta. Tanggal ini yang kemudian diperingati sebagai hari lahirnya Kota Jakarta. Tumbuh dari peradaban kota pesisir, Jayakarta sempat berubah nama menjadi Batavia saat dikuasai oleh Belanda. Penjajah kemudian membangun Batavia dengan arsitektur dan kanal-kanal seperti di negara asalnya, Belanda. Jejak sejarah kini masih tersisa, sejumlah bangunan tua seakan bicara dalam kebisuan menjadi saksi  perjalanan panjang Kota Jakarta.

Lima ratus tahun kemudian, Jakarta yang kini menjadi Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) telah bertransformasi menjadi kota megapolitan yang dihuni oleh penduduk heterogen. Warga dari beragam suku dan etnis, termasuk bangsa asing menjadi penduduk Jakarta.

Tahun depan, 22 Juni 2027 Jakarta genap berusia 500 tahun. Peradaban di Kota Jakarta pun berubah. Kota megapolitan terus menggeliat, denyut kehidupan tak henti selama 24 jam. Gedung-gedung pencakar langit juga terus tumbuh bak hutan beton. Gegap gempita Kota Jakarta pun menjadi magnet bagi kaum urban dari berbagai daerah untuk mengais rezeki. Penduduk urban terus mengalir ke Ibukota.

Baca Lainnya :

Persoalan Kompleks dan Strategi Pembangunan

Seiring dengan pesatnya pembangunan dan pertumbuhan penduduk, beragam persoalan kompleks harus dihadapi pemerintah. Mulai dari masalah klasik banjir dan kemacetan lalu lintas, penumpukan sampah, gangguan kamtibmas, hingga persoalan ekonomi dan sosial, semua bermunculan.

Populasi penduduk Jakarta yang tumbuh pesat kian padat berdampak pada kesulitan hunian. Tidak sedikit warga yang tinggal di rumah kumuh tak layak huni, bahkan ada yang terpaksa tidur bergantian 3 shift dalam satu rumah. Sebagai catatan, Provinsi DKI Jakarta mempunyai luas daratan 661,52 km2 dan lautan seluas 6.977,5 km2 dihuni oleh lebih dari 10 juta penduduk resmi, belum termasuk kaum urban.

Badan Pusat Statistik DKI Jakarta mencatat, jumlah penduduk resmi di Ibukota tahun 2026 mencapai 10.881.514 berdasarkan data Dukcapil. Sedangkan kepadatan penduduk terdata 16.129 jiwa/km, atau tertinggi di Indonesia. Pemprov DKI Jakarta pun harus mencari solusi mengatasi berbagai persoalan. Mulai dari masalah hunian, lapangan kerja, pendidikan, sosial ekonomi, transportasi, pengangguran, kamtibmas serta masalah-masalah lainnya harus diatasi pemprov.

Untuk menjawab berbagai persoalan di Ibukota, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung telah membuat berbagai kebijakan dan terobosan-terobosan di berbagai sektor. Seperti di sektor transportasi dan tata kota. Strategi dilakukan dengan membangun sistem terintegrasi dengan moda transportasi massal serta ruang bagi UMKM guna mengatasi kemacetan.

Strategi lainnya yaitu kebijakan  pembiayaan kreatif dan ekonomi kreatif. Kebijakan Gubernur DKI dalam mendongkrak kesejahteraan dan ekonomi warganya dilakukan dengan
Membuka ribuan lowongan kerja melalui program padat karya.

Pembangunan insfrastruktur juga terus digeber. Sementara dalam mengatasi masalah sampah, Gubernur Pramono juga punya jurus jitu dengan mengubah sistem pengelolaan sampah dari pola kumpul-angkut-buang menjadi pilah-angkut-olah mulai 1 Agustus 2026.

Tantangan Kompetisi Global

Menatap ke depan, persoalan Jakarta kini bukan cuma banjir, kemacetan lalu lintas, ataupun penumpukan sampah. Seiring dengan globalisasi dan era digital, kompleksitas yang dihadapi oleh kota Jakarta dan penduduknya adalah soal kemampuan sumber daya manusia (SDM). Pembangunan infrastruktur gedung-gedung pencakar langit pun kini bukan menjadi prioritas utama. Justru  pembangunan manusia yang kini harus menjadi prioritas utama.

Kompleksitas yang dihadapi kota-kota di dunia di era globalisasi ini hampir sama. Tantangan ke depan adalah, bagaimana menguasai teknologi di era serba digital. Jakarta membutuhkan lompatan besar bukan hanya dari sisi ekonomi. Kualitas SDM yang adaptif terhadap era digital menjadi hal yang krusial. Semua sektor layanan publik mulai dari perbankan hingga ke warung kopi, kini serba digital.

Pembangunan secara fisik di era digital ini bisa menjadi sia-sia. Tengok saja gedung perkantoran ataupun swalayan yang kini sepi pengunjung. Karyawan perkantoran lebih sering bekerja dari rumah atau work from home (WFH). Mal atau supermarket pun kian sepi dari konsumen lebih memilih belanja online. Termasuk juga trasportasi, ojek online dan taksi online juga telah menjadi pilihan masyarakat.

Artinya, kita kini hidup di 'dunia lain' yang serba digital.  Kehadiran Artificial Intelligence (AI) juga telah mengubah segalanya. Revolusi industri pun tak bisa dihindari. Tenaga kerja manusia telah digantikan oleh mesin dan robot. Kehadiran algoritma AI telah merampas pekerjaan manusia.

Kemajuan teknologi digital kini menjadi sebuah keniscayaan kalau tidak ingin teringgal di era globalisasi ini. Artinya, pesatnya pembangunan sebuah kota, tanpa disiapkan dengan SDM yang tangguh maka tak akan mampu bersaing secara global dan menjadi sia-sia.

Kota Global dan Optimisme Jakarta

Jakarta serta sejumlah kota di Indonesia kini sedang bertransformasi menuju Kota Global.  Dalam laporan ”The Global Cities Report 2024” yang dirilis konsultan internasional Kearney, Jakarta menempati peringkat ke-74 dari 156 kota global. Posisi kedua diduduki Surabaya pada posisi 148, disusul Bandung di posisi 153.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung mengaku optimistis Kota Jakarta bisa masuk 50 besar kota global pada 2029 mendatang. Tahun 2025 lalu Pramono mencanangkan HUT Kota Jakarta dengan mengangkat tema 'Jakarta Kota Global dan Berbudaya'. Gubernur memamerkan proyek Blok M Hub, pembangunan pedestrian hingga koneksi transportasi umum sebagai modal menuju Jakarta Kota Global.

Salah satu syarat menjadi kota global adalah equitable development atau pemerataan pembangunan. Tanpa pemerataan pembangunan, maka sebuah kota tidak punya nilai tambah untuk masuk peringkat sebagai Kota Global.

Prestasi yang dicapai Kota Jakarta sesungguhnya patut dibanggakan. Tahun 2026 ini Kota Jakarta mencatatkan prestasi sebagai sebagai Kota Teraman ke-2 di ASEAN  berdasarkan survei Global Residence Index 2026. Posisi pertama diduduki oleh Singapura.

Tahun 2026 ini Jakarta juga menempati peringkat ke-53 dalam daftar 100 World's Best Cities 2026 berdasarkan laporan yang disusun oleh Resonance Consultancy. Berdasarkan rilis resmi  pada laman worldsbestcities.com, Jakarta berhasil menempati peringkat ke-53 dalam daftar 100 World's Best Cities 2026. Jakarta berada di bawah posisi Guangzhou. Peringkat pertama diduduki oleh London, disusul kemudian New York dan Paris. Survey ini menjaring lebih dari 270 kota di seluruh dunia dan  memilih 100 pusat perkotaan yang paling berpengaruh secara global.

Posisi Jakarta yang masuk dalam 100 besar kota terkemuka di dunia tentu tidak terlepas dari kualitas SDM yang terlibat mengelola Ibukota di berbagai bidang. Artinya, quality of human resources menjadi penentu majunya sebuah kota hingga mampu bersaing di tingkat global.

Satu lagi yang harus digarisbawahi, manusia bukanlah mesin atau robot. Di era digital ini manusia dituntut cerdas menguasai teknologi. Namun dia tetaplah mahluk sosial yang memiliki empati, rasa tanggung jawab dan nilai-nilai religius yang diaplikasikan dalam setiap pekerjaan. Dirgahayu Jakarta. (Red)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook