- Buoy dan Oil Boom Terpasang di Lokasi Bangkai KMP Batumandi, ASDP Perkuat Penanganan
- Pelindo-Jamdatun Kerja Sama Pemahaman Kepatuhan Hukum
- Merajut Masa Depan, Pelindo Terminal Petikemas Bekali Keterampilan Anak Binaan LPKA Kelas I Blitar
- Stok Beras Nasional 4,56 juta ton, Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah
- Menaker Minta Kuota MagangHub BRI Diperluas
- Dua Tahun Kabinet Merah Putih, Presiden Prabowo: Kita di Jalur yang Benar
- Zero Kendaraan ODOL 2027, Pelabuhan Tanjung Perak Lokasi Uji Coba Penertiban
- Ini Dilakukan NPCT1 Melangkah Satu Dekade Kinerja Tumbuh dan Kuat
- Kekayaan Laut Dicuri, Pemerintah Bentuk Satgas Pemberantasan Penyelundupan Benih Lobster
- Kemnaker Siapkan Pelatihan Vokasi Terintegrasi dengan Industri di KEK
Buoy dan Oil Boom Terpasang di Lokasi Bangkai KMP Batumandi, ASDP Perkuat Penanganan

Keterangan Gambar : Pelampung penanda bahaya navigasi (buoy) ada Senin (26/10/2026) telah dipasang oleh Distrik Navigasi Tanjung Priok di lokasi tenggelamnya KMP Batumandi di perairan Merak, Banten. Sedangkan penghalang minyak (oil boom) dipasang melalui dukungan Pertamina Gerem dan Pertamina Sekong. Foto: ASDP
Indonesiamaritimenews.com (IMN), BANTEN: Pascakebakaran KMP Batumandi di perairan Merak, Banten, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) melakukan langkah penanganan melalui pengamanan lokasi, pendampingan pengguna jasa, dan persiapan penanganan lanjutan kapal.
Hingga Senin (26/10/2026), pelampung penanda bahaya navigasi (buoy) telah dipasang oleh Distrik Navigasi Tanjung Priok, sementara penghalang minyak (oil boom) telah terpasang melalui dukungan Pertamina Gerem dan Pertamina Sekong. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga keselamatan pelayaran sekaligus mengantisipasi potensi dampak lingkungan di sekitar lokasi kejadian.
Corporate Secretary ASDP, Windy Andale menyampaikan bahwa penanganan KMP Batumandi terus menjadi perhatian perusahaan, dengan mengedepankan langkah konkret sesuai perkembangan di lapangan serta koordinasi bersama otoritas terkait.
Baca Lainnya :
- Zero Kendaraan ODOL 2027, Pelabuhan Tanjung Perak Lokasi Uji Coba Penertiban0
- KMP Batumandi Tenggelam, Kemenhub dan ASDP Pastikan Pelabuhan Merak Tetap Normal0
- Kemenhub dan Jasa Raharja Pastikan Hak Penumpang KMP Batumandi Pascakebakaran di Perairan Merak0
- Kejati dan Pelindo Regional 2 Bengkulu MoU, Fondasi Kepastian Hukum Operasional Pelabuhan0
- Security, Security, Security, Akhirnya, KMP Batumandi Terbalik dan Tenggelam0
“Penanganan KMP Batumandi terus menjadi perhatian kami, baik dari sisi keselamatan pelayaran, perlindungan lingkungan, maupun kepentingan pengguna jasa. Pemasangan buoy dan oil boom merupakan perkembangan konkret dalam pengamanan lokasi, sementara persiapan penanganan lanjutan kapal terus berjalan melalui koordinasi dengan pihak berwenang,” ujar Windy dalam keterangan tertulis, Senin (26/10/2026).
Buoy merupakan pelampung penanda yang memberikan petunjuk visual bagi kapal mengenai lokasi atau potensi bahaya navigasi. Penanda yang terpasang pada Minggu (25/10) tersebut berada sekitar 93 meter dari posisi KMP Batumandi, sehingga membantu kapal yang melintas mengenali area yang memerlukan kewaspadaan khusus. Sedangkan oil boom berupa penghalang terapung yang berfungsi membatasi penyebaran minyak di permukaan air apabila terjadi kebocoran.
Persiapan Pengangkatan Bangkai Kapal
Sejalan dengan pengamanan lokasi, persiapan salvage atau penanganan dan pengangkatan bangkai kapal kini berada pada tahap evaluasi teknis, penelaahan metode pengangkatan, serta penilaian risiko. Hasil kajian tersebut akan menjadi pertimbangan dalam menentukan langkah penanganan berikutnya dengan memperhatikan kondisi kapal, keselamatan pelayaran, dan perlindungan lingkungan.
Terkait dengan hal tersebut, Direktur Kesatuan Pengawasan Laut dan Pelayaran (KPLP), Capt. Budi Mantoro, menegaskan penanganan KMP Batumandi memerlukan koordinasi yang erat antarpihak dengan tetap mengutamakan keselamatan pelayaran dan perlindungan lingkungan maritim.
“Penanganan kapal yang tenggelam harus dilakukan secara terencana dengan mempertimbangkan kondisi kapal dan berbagai aspek keselamatan. Kami terus berkoordinasi dengan ASDP dan instansi terkait agar proses persiapan operasi pengangkatan kapal (salvage), termasuk penunjukan perusahaan pelaksana (salvor) dapat segera dilaksanakan sesuai ketentuan yang berlaku,” ujar Budi.
Kementerian Perhubungan berharap rencana pengangkatan kapal KMP Batumandi dapat segera memasuki tahap pelaksanaan setelah seluruh persiapan teknis dan administrasi terpenuhi. Upaya ini diharapkan dapat mendukung penyelesaian penanganan pascainsiden serta memastikan kapal yang tenggelam tidak menimbulkan risiko berkepanjangan bagi aktivitas pelayaran di sekitarnya.
Pendampingan dan Penyelesaian Klaim Penumpang
Dari sisi penanganan penumpang, seluruh pengguna jasa yang sebelumnya menjalani perawatan di rumah sakit telah kembali ke kediaman masing-masing. ASDP tetap melanjutkan pendampingan bagi penumpang terdampak sesuai kebutuhan sebagai bagian dari pelayanan pascainsiden.
Penyelesaian klaim kendaraan dan barang juga terus berjalan bersama PT Jasa Raharja Putera selaku pihak asuransi. Hingga 25 Oktober 2026, pembayaran klaim telah mencapai Rp1,39 miliar, termasuk klaim atas empat kendaraan yang telah diselesaikan. Pengajuan lainnya masih melalui proses verifikasi dan administrasi sesuai ketentuan pertanggungan yang berlaku.
Windy menegaskan bahwa ASDP terus mengawal perkembangan penanganan KMP Batumandi bersama regulator, otoritas pelabuhan, dan instansi terkait sesuai kewenangan masing-masing, agar setiap tahapan dapat dilaksanakan secara terukur dan bertanggung jawab.
“Kami memahami bahwa penanganan pascainsiden membutuhkan proses yang menyeluruh. Karena itu, ASDP akan terus mengawal setiap perkembangan sesuai kewenangan perusahaan, termasuk pendampingan pengguna jasa dan persiapan penanganan kapal. Kami ingin memastikan setiap tahapan dilakukan secara cermat, dengan keselamatan dan kepentingan masyarakat tetap menjadi prioritas,” tutup Windy.
Seperti diberitakan indonesiamaritimenews.com sebelumnya, kapal KMP Batumandi bertolak dari Pelabuhan Bakauheni sekitar pukul 14.52 WIB. Berdasarkan informasi awal dari Vessel Traffic Service (VTS) Merak, insiden kebakaran dilaporkan sekitar pukul 16.15 WIB, Selasa (20/10/2026). Api diduga bersumber dari ruang mesin kapal.
Penumpang kapal tersebut berjumlah 420 orang berdasarkan manifest. Sedangkan data Basarnas menyebut ada 420 penumpang serta 40 kru kapal. Di dalam kapal juga terdapat 89 unit kendaraan. Dari total penumpang tersebut, sebanyak 393 orang berada di dalam kendaraan, sedangkan 27 orang lainnya merupakan penumpang pejalan kaki. (Han/Mar)











