- PELNI Tutup Tahun 2025, Tandatangani 3 Kerja Sama Terpadu Pelayaran Perintis dan PSO Rp 2,78 T
- Speedboat Srikandi Express Tenggelam, 4 ABK Dievakuasi Prajurit Lanal TBĶ
- Utamakan Korban Bencana Sumatera, PELNI Bebaskan Biaya Angkut Rp1,2 M Pengiriman Barang Bantuan
- Tutup Tahun 2025, TNI AL Menggelar Aksi Kemanusiaan di Bireun Aceh
- Stop Impor Garam, KKP Optimistis 2027 Indonesia Bisa Swasembada
- Program Budidaya Tematik, KKP-KDKMP Siap Suplai Ikan Menu MBG
- Layanan TNI AL untuk Masyarakat Terdampak Bencana, Cek Kesehatan dan Bagikan Obat-obatan
- Selain Udang, KKP Siap Penuhi Permintaan Produk Perikanan Bebas Cesium-137
- Libur Nataru Layanan Pelabuhan Perikanan Tetap Optimal, Nelayan Diingatkan Cuaca Ekstrem
- Percepat Layanan Sertifikasi Bebas Cesium-137, KKP Tambah Scanner Radioaktif Baru
Presiden Jokowi Meminta Masyarakat Diberi Edukasi Menghadapi Bencana

Keterangan Gambar : Presiden Jokowi memberi penjelasan soal antisipasi bencana. Foto: Setpres
Indonesiamaritimenews.com (IMN) JAKARTA: Dunia saat ini menghadapi perubahan iklim yang menyebabkan frekuensi bencana alam naik drastis secara global, termasuk Indonesia. Presiden Joko Widodo menekankan, kesiapan pemerintah daerah, edukasi dan pelatihan kepada masyarakat menjadi langkah antisipasi yang harus diprioritaskan.
Hal ini dikatakan Presiden Jokowi dalam sambutannya pada Peresmian Pembukaan Rapat Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana Tahun 2023 yang diselenggarakan di Jakarta International Expo, Kamis (2/3/2023).
Presiden mengatakan bahwa frekuensi bencana alam di Tanah Air naik 81 persen dari tahun 2010.
Baca Lainnya :
- Kemenhub Gandeng Jepang Bangun Proving Ground di Indonesia1
- Budayakan Bersih Lingkungan, TNI AL Angkat Sampah dari Laut0
- Mantap! TNI AL Gagalkan Penyelundupan Ratusan Miras Asal Malaysia di Sebatik 0
- Cuaca Buruk, Masalembo Krisis Pangan TNI AL Kerahkan Kapal Kirim Logistik2
- Transformasi Ekonomi Hijau, Presiden Jokowi Memulai Pembangunan PLTA di Kaltara0
“Kita ini tidak hanya urusan banjir, tidak hanya urusan gunung berapi yang meletus, bukan hanya urusan tanah longsor, yang lebih sering adalah gempa bumi dan bencana alam maupun non-alam lainnya yang kita hadapi,” kata Jokowi.
Ia menegaskan, siaga dan waspada menjadi kunci yang harus dipersiapkan dan dikelola dengan baik, utamanya dalam tahap prabencana. Menurut Jokowi, edukasi dan pelatihan kepada masyarakat menjadi langkah antisipasi yang harus menjadi prioritas.
“Bagaimana menyiapkan masyarakat, bagaimana mengedukasi masyarakat, bagaimana memberikan pelatihan-pelatihan kepada masyarakat untuk langkah-langkah antisipasi itu harus menjadi prioritas untuk meminimalisasi korban maupun kerugian,” sambung mantan Gubernur DKI Jakarta ini.
Presiden juga menekankan pentingnya menyiapkan skenario secara detail apabila terjadi bencana. “Kalau pas terjadi misalnya gunung berapi larinya ke mana, kalau pas ada gempa bumi larinya ke mana, seperti ini secara detail yang sering kita abai. Pas ada bencana kita pontang-panting, begitu sudah rampung ya rampung,” lanjutnya.
TATA RUANG
Menuinggung soal tata ruang dan konstruksi, Jokowi meminta pemerintah daerah kembali memperhatikan konstruksi bangunan, utamanya di daerah-daerah rawan bencana. Ia juga meminta agar daerah mulai menyosialisasikan kepada masyarakat untuk menggunakan konstruksi bangunan antigempa.
Bukan hanya bangunan yang bertingkat, tetapi bangunan yang tidak bertingkat pun harus diwajibkan dan mulai diarahkan terutama di daerah-daerah yang rawan gempa gar menggunakan kontruksi antigempa.
Hadir dalam acara tersebut, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy; Menko Polhukam Mahfud Md; Menteri Sekretaris Negara Pratikno; Panglima TNI Laksamana Yudo Margono; Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo; Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto; dan Pj. Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono. (Arry/Oryza)











