- PELNI Kembangkan Ekosistem Bisnis Kelautan dan Wisata Masyarakat Adat di Pulau Kapota
- Asian Games 2026, Atlet TNI AL Berjaya Sumbang 2 Medali
- Innalillahi... Maestro Seni-Politisi Guruh Soekarnoputra Tutup Usia
- Penyelam TNI AL Kembali Temukan 5 Jenazah di Lambung KMP Virgo Transport-8
- KKP Gandeng Kemenkop, BP BUMN dan Kemenkeu Kelola Kampung Nelayan Merah Putih
- Gandeng Tiongkok, KKP Genjot Produksi Perikanan Tangkap Dalam Negeri
- Kemenhub Kirim KN Kunyit Angkut Reefer Container Penyimpan Jenazah Korban KMP Virgo Transport 8
- Penyelam TNI AL Temukan 14 Jenazah di Bangkai KMP Virgo Transport 8
- Apresiasi Pengabdian Merah Putih Kodaeral IV, TNI AL Raih Dua Penghargaan dari Pemprov Kepri
- Panglima TNI Pimpin Upacara Peresmian KRI Sriwijaya-100, Dihadiri Chief of Staff Italian Navy
PELNI Kembangkan Ekosistem Bisnis Kelautan dan Wisata Masyarakat Adat di Pulau Kapota

Keterangan Gambar : PELNI Kembangkan Ekosistem Bisnis Kelautan dan Wisata Masyarakat Adat di Pulau Kapota. Foto: PELNI
Indonesiamaritimenews.com (IMN), WAKATOBI: PT Pelayaran Nasional Indonesia atau PT PELNI (Persero) meresmikan pengembangan ekosistem bisnis kelautan dan wisata masyarakat hukum adat di Pulau Kapota, Kec. Wangi-Wangi, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara.
Peresmian yang berlangsung pada Rabu (23/9/2026) dihadiri oleh Kepala Cabang PELNI Baubau, Lutfi Israr; Asisten I Sekretaris Daerah Kabupaten Wakatobi, Bakri yang mewakili Bupati Wakatobi; Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan Kelas II Wanci, Tri Mulyoko.
Hadir pula Kepala SPTN Wilayah I Balai Taman Nasional Wakatobi, La Fasa; Kepala Dinas Perikanan, Saoruddin; Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship Institut Pertanian Bogor; Manager TJSL PELNI, Septiani Khadijah Thalib, serta sejumlah perangkat desa dan masyarakat Pulau Kapota.
Baca Lainnya :
- Customer Rafting IPC TPK di Cisadane Bogor, Momen Rekreasi Bersama Pengguna Jasa0
- Kemnaker Perkuat Kompetensi Pemandu Wisata Gunung di NTB0
- TNI AL Ajak Warga Makassar Seru-seruan Bersama Kapal Siluman Canggih KRI Golok-6880
- Rano Karno Luncurkan Bus Open Top Tour Jakarta Batavia, Menyusuri Jejak Sejarah, Segini Tarifnya0
- Jelajah Wisata Bangka Selatan, PWI Ajak Telusuri Jejak Sejarah dan Pesona Keindahan Bahari0
Program Pengembangan Ekosistem Bisnis Kelautan Wisata Masyarakat Hukum Adat ini merupakan bagian dari TJSL (Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan) PELNI. Hal ini sejalan dengan Pilar Ekonomi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) 10 tentang Berkurangnya Kesenjangan yang mendorong peningkatan pendapatan masyarakat, terutama kelompok masyarakat berpendapatan rendah, agar dapat tumbuh secara progresif dan berkelanjutan.
Kepala Cabang PELNI Baubau, Lutfi Israr dalam sambutannya mewakili Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PELNI mengatakan program tersebut merupakan bentuk komitmen PELNI untuk mendorong potensi yang dimiliki masyarakat hukum adat di Pulau Kapota.
PELNI mendorong agar potensi yang dimiliki masyarakat tidak hanya menjadi kekayaan budaya dan lingkungan, tetapi juga dapat berkembang menjadi sumber penghidupan dan kegiatan ekonomi yang berkelanjutan.
“Pulau Kapota memiliki potensi kelautan, perikanan, dan kearifan lokal yang sangat baik untuk dikembangkan. Melalui program ini, kami ingin mendorong masyarakat menjadi aktor utama dalam mengembangkan potensi tersebut sehingga dapat memberikan nilai tambah, membuka peluang usaha, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Lutfi.
Pengembangan Ekosistem Bisnis
Program ini berfokus pada pengembangan ekosistem bisnis berbasis produk unggulan lokal dengan tetap memperhatikan keseimbangan antara aspek ekonomi dan pelestarian lingkungan.
Pelaksanaannya dilakukan melalui kolaborasi dengan Direktorat Pengembangan Masyarakat Maritime Institut Pertanian Bogor (IPB) selama satu tahun. Kerja sama itu mencakup pendampingan, penguatan pengetahuan, pemanfaatan teknologi, serta penguatan kelembagaan masyarakat.
Adapun program tersebut meliputi pengembangan usaha perikanan tangkap, pembangunan Demonstration Plot (Demplot) budidaya ikan kerapu sebagai sarana pembelajaran dan percontohan bagi masyarakat, pendampingan kelembagaan dan teknologi penangkapan perikanan yang ramah lingkungan, serta pengembangan wisata masyarakat.
Selain itu, PELNI memberikan 100 buah life jacket kepada nelayan sebagai bentuk perhatian terhadap aspek keselamatan masyarakat dalam menjalankan aktivitas di laut.
“Program ini bukan hanya mengenai bantuan, tetapi bagaimana kita bersama-sama membangun ekosistem usaha yang dapat berjalan secara mandiri, memberikan nilai tambah bagi produk lokal, membuka peluang usaha, dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Kami berharap pendampingan dan kolaborasi yang dilakukan dapat memberikan manfaat dalam jangka panjang,” tambah Lutfi.
Pulau Kapota dipilih sebagai lokasi program karena masyarakat setempat masih mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal dan sistem adat dalam pengelolaan sumber daya perikanan dan kelautan. Potensi tersebut menjadi modal untuk mengembangkan berbagai kegiatan ekonomi, mulai dari usaha perikanan tangkap, budidaya perikanan, pengolahan hasil perikanan hingga penerapan inovasi yang ramah lingkungan.
Adapun seluruh Program TJSL PELNI mengacu pada pilar Sustainable Development Goals (SDGs) yang dicanangkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa dan telah diadopsi dalam Program TJSL BUMN. Selain pilar sosial, TJSL PELNI juga mencakup pilar ekonomi, lingkungan, serta tata kelola dan hukum. (Arry/Mar)











