- Lampung dan Banten Diguyur Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau
- Gunung Anak Krakatau Erupsi Muntahkan Lava Pijar, Warga Pesisir Banten Panik
- Keren, Formasi Laut Kapal Perang TNI AL dan Maritim Amerika di Laut Banten
- Budi Daya Lobster di Lombok Timur, KKP Dorong Kemajuan Ekosistem
- Presiden Prabowo Dorong Konektivitas Langsung Indonesia-Rusia, dari Kapal Laut hingga Pesawat
- 4 Kapal Perang TNI AL dan US Navy Dikerahkan di Perairan Jawa, Ada Apa ?
- KKP - ISI Yogyakarta Kembangkan Harta Karun BMKT untuk Ilmu Pengetahuan dan Seni
- Navy Brotherhood, Kapal Perang TNI AL dan Tentera Malaysia Jaga Selat Malaka
- Hari Pelanggan Nasional 2026, IPC TPK Pontianak Perkuat Sinergi Pengguna Jasa
- Podcast PWI CHANNEL Resmi Diluncurkan, Wamen Komdigi Angga Raka Tampil Perdana
3 Bayi Buaya Langka Sinyulong Diamankan KKP dari Permukiman Nelayan, Ini Penampakannya

Keterangan Gambar : Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Balai Pengelolaan Kelautan (Balai PK) Pontianak menyelamatkan 3 ekor anakan buaya sinyulong (Tomistoma schlegelii) dari kawasan permukiman nelayan. Foto: KKP
Indonesiamaritimenews.com (IMN), PONTIANAK: Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Balai Pengelolaan Kelautan (Balai PK) Pontianak bergerak cepat menyelamatkan 3 ekor anakan buaya sinyulong (Tomistoma schlegelii) dari kawasan permukiman nelayan.
Ketiga anakan buaya langka itu diselamatkan di Dusun Teredu, Desa Anjungan Dalam, Kecamatan Anjungan, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat. Ketiga satwa langka yang oleh masyarakat lokal Dayak Kanayatn/Ahe disebut “Baringayong” tersebut, masing-masing berukuran sekitar 33 sentimeter.
Penyelamatan bermula dari laporan masyarakat mengenai telur buaya yang menetas di sekitar permukiman nelayan dan adanya indikasi satwa tersebut akan diperdagangkan pada 20 Agustus 2026.
Baca Lainnya :
- KKP Ringkus Kapal Komplotan Pelaku Bom Ikan di Kepulauan Spermonde0
- Pemanfaatan Air Laut, KKP Terbitkan Izin untuk 16 Pembangkit PLN NP0
- Kampung Nelayan Merah Putih Mulai Menggeliat, Sudah Pasarkan 273 Ton Ikan0
- Rumput Laut dan Agar-agar Indonesia Bebas Tarif Tambahan Section 3 di AS0
- Kampung Nelayan Merah Putih di Konawe Mulai Produktif, Kirim 8 Ton Ikan Kualitas Ekspor0
Tim Respon Cepat Balai PK Pontianak segera turun ke lapangan untuk melakukan konfirmasi dan pengumpulan bahan serta keterangan (pulbaket). Petugas memastikan proses evakuasi dan penanganan awal bayi buaya dilakukan dengan memperhatikan prinsip kesejahteraan hewan (animal welfare).
Berdasarkan evaluasi klinis awal secara daring bersama dokter hewan spesialis, drh. Rio, kondisi ketiga anakan buaya secara umum cukup baik. Namun, pada bagian ventral abdomen masih ditemukan sisa kantung kuning telur (yolk sac) yang berisiko memicu infeksi apabila tidak mendapatkan perawatan secara tepat.
Untuk mencegah komplikasi kesehatan, ketiga anakan buaya tersebut kini menjalani pemeliharaan dan inkubasi intensif di Tempat Penampungan Sementara Balai PK Pontianak. Perawatan dilakukan secara berkala hingga kondisi fisik dan organ luar satwa pulih serta dinyatakan stabil.
Daerah Habitat Buaya
Kepala Balai Pengelolaan Kelautan Pontianak, Syarief Iwan Taruna Alkadrie, mengatakan temuan tersebut menjadi catatan penting bagi data sebaran buaya sinyulong di Kalimantan Barat. Keberadaan anakan yang baru menetas di kawasan Sungai Mempawah Hulu mengindikasikan bahwa wilayah tersebut merupakan habitat yang masih mendukung proses reproduksi spesies tersebut.
“Sebaran buaya sinyulong di Kalimantan Barat sebelumnya lebih banyak teridentifikasi di Kabupaten Kapuas Hulu dan Kabupaten Ketapang. Temuan anakan yang baru menetas di wilayah Mempawah mengonfirmasi bahwa ekosistem Sungai Mempawah Hulu masih mendukung keberadaan dan reproduksi spesies ini,” ujar Iwan dalam siaran resmi, Minggu (30/8/2026).
Menurut Iwan, temuan tersebut sekaligus menjadi indikasi penting mengenai dinamika habitat buaya sinyulong di Kalimantan Barat. Perubahan kondisi lingkungan, seperti degradasi dan fragmentasi rawa gambut, perubahan debit sungai, serta ketersediaan pakan alami, perlu menjadi perhatian dalam upaya menjaga keberlangsungan habitat satwa tersebut.
Dengan tambahan tiga individu tersebut, total anakan buaya yang saat ini menjalani penanganan di Balai PK Pontianak menjadi empat ekor. Jumlah tersebut terdiri atas tiga anakan buaya sinyulong dan satu anakan buaya muara berukuran sekitar 38 sentimeter yang telah dievakuasi sebelumnya.
Sebagai langkah preventif, Balai PK Pontianak terus berkoordinasi dengan pemerintah desa dan aparat setempat untuk melakukan pemantauan habitat sekaligus meningkatkan edukasi kepada masyarakat. KKP mengimbau masyarakat agar tidak menangkap, memelihara, maupun memperjualbelikan buaya sinyulong karena merupakan satwa yang dilindungi. Spesies ini berstatus Endangered dalam IUCN Red List dan tercantum dalam Appendix I CITES. (Riz/oryza)











