- Bangun Proyek Dermaga Tanpa Izin, Dua Perusahaan di Riau Disegel KKP
- Puluhan Ekor Hiu Bambu Hasil Penangkaran Dilepas KKP di Laut Kepulauan Seribu
- Libur Sekolah, Penjualan Tiket Diskon Kapal PELNI Tembus 214 Ribu Penumpang
- Kapal Perang Inggris HMS Tamar (P233) Merapat di Jakarta, Ada Apa ?
- Pelindo Regional 2 Priok Gandeng Kejaksaan Tangani Kepastian Hukum Penyelenggaraan Kegiatan Kepelabuhanan
- Ini Hasil RUPS Pelindo 2025: Kinerja Tumbuh, Setor ke Negara Rp7,81 Triliun
- Latma Malindo Jaya 28AB-26, Indonesia dan Malaysia Himpun Kekuatan Laut Hadapi Tantangan Maritim
- Operasi Senyap TNI AL di Tengah Malam, Gagalkan Penyelundupan Pasir Timah 4,25 Ton Miliaran Rupiah
- Kunjungi PELNI di Pelabuhan Surabaya, Komisi XI DPR RI Dukung Peremajaan Kapal
- Menunggu Keputusan Alur Pelayaran Masuk Pelabuhan Senayang, Kemenhub Sinkronkan Aspek Teknis
Puluhan Ekor Hiu Bambu Hasil Penangkaran Dilepas KKP di Laut Kepulauan Seribu

Keterangan Gambar : Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melepasliarkan puluhan ekor Hiu Bambu hasil penangkaran dilepas KKP di laut Kepulauan Seribu Selatan. Foto: KKP
Indonesiamaritimenews.com (KKP), TANGERANG SELATAN: Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus memperkuat perlindungan dan pemulihan populasi spesies ikan serta biota perairan, melalui berbagai program konservasi.
Program konservasi yang terintegrasi mulai dari pengembangbiakan (captive breeding), rehabilitasi, konservasi ex-situ, hingga pelepasliaran ke habitat alaminya. Upaya tersebut untuk menjaga keberlanjutan keanekaragaman hayati laut Indonesia sekaligus mendukung kebijakan ekonomi biru.
Salah satu langkah nyata yang dilakukan yakni pelepasliaran 25 ekor Hiu Bambu (Chiloscyllium punctatum) hasil captive breeding dan 5 ekor Hiu Karang Sirip Hitam (Carcharhinus melanopterus) ke habitat alaminya di Kawasan Konservasi Perairan Kepulauan Seribu Selatan belum lama ini.
Baca Lainnya :
- Dukung Tata Ruang Laut Berkelanjutan, KKP Dorong Kolaborasi Program CSR0
- Pelindo Hadir Restorasi Terumbu Karang dan Pemberdayaan Masyarakat Pesisir di Labuan Bajo0
- KKP Bawa Kembali Produk Perikanan Budi Daya Masuk Pasar Uni Eropa0
- KKP Perkuat Penataan Pesisir dan Perairan di KEK Industropolis Batang0
- KKP Gandeng SnackVideo Kembangkan SDM Kelautan Perikanan0
Direktur Konservasi Spesies dan Genetik KKP, Sarmintohadi, dalam siaran resmi di Jakarta, Kamis (18/6/2026) mengatakan bahwa pengembangbiakan dan pelepasliaran merupakan instrumen penting dalam mendukung pemulihan populasi spesies serta menjaga keseimbangan ekosistem laut.
“Konservasi tidak hanya dilakukan melalui perlindungan habitat di alam, tetapi juga melalui upaya rehabilitasi, pengembangbiakan, penelitian, dan edukasi yang mampu mendukung pemulihan populasi spesies sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga keanekaragaman hayati perairan,” ujarnya.
Kenalkan Pot-bellied Seahorse
Selain pelepasliaran, KKP juga mendorong pengembangan konservasi ex-situ sebagai sarana penelitian, edukasi, dan penyelamatan spesies. Salah satunya melalui pengenalan Pot-bellied Seahorse yang berasal dari hibah YO-GYO Aquarium Jepang kepada BXSea sebagai pemegang Surat Izin Pemanfaatan Jenis Ikan (SIPJI) Aquaria.
Kehadiran spesies tersebut diharapkan dapat menjadi media edukasi bagi masyarakat mengenai pentingnya perlindungan spesies laut dan pengelolaan biota perairan secara bertanggung jawab.
Untuk memperkuat implementasi program konservasi, KKP menjalin kolaborasi dengan BXSea Oceanarium dalam pengembangan konservasi ex-situ, rehabilitasi biota perairan, restocking jenis ikan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pendataan spesies, serta edukasi publik mengenai konservasi laut.
Direktur PT Jaya Real Property Tbk, Tina Santosa Hadisumarto, menyampaikan bahwa kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat peran BXSea sebagai sarana edukasi konservasi yang mendekatkan masyarakat dengan berbagai spesies perairan serta menumbuhkan kepedulian terhadap pelestarian biota akuatik Indonesia.
Melalui berbagai program konservasi tersebut, KKP terus memperkuat perlindungan spesies ikan dan biota perairan sebagai bagian dari implementasi kebijakan ekonomi biru yang diusung Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono.
Kebijakan ini menempatkan kesehatan ekosistem laut sebagai fondasi pembangunan kelautan dan perikanan berkelanjutan, sehingga keberadaan spesies dan sumber daya perairan dapat terus terjaga serta memberikan manfaat bagi generasi kini dan mendatang. (Arry/Mar)











