- Laba Pelindo Semester I 2026 Tumbuh 60 %, Transformasi Diperkuat Danantara
- Budidaya Kepiting Soka Binaan Pelindo di Pesisir Indramayu Tembus 958 Kg, Peluang Raup Cuan
- Diskon Tiket PELNI Disambut Antusias, Kuota Terserap 96 Persen
- Paus Bungkuk Terdampar di Pantai Perancak Bali, Tak Kuat Bertahan Hidup
- Penyelundupan 10,9 Ton Pasir dan Balok Timah Rp1,7 M Dibongkar TNI AL di Jakarta Utara
- Penyelundupan 1,9 Ton Pasir Timah ke Malaysia digagalkan Kodaeral IV di Perairan Karimun
- GM Pelindo Regional 2 Panjang: Tren Operasional Semester I Tahun 2026 Positif, Optimistis Kinerja Tumbuh Hingga Akhir Tahun
- Buntut Ucapan Lu Punya Otak Nggak, PWI Seret Hotman Paris ke Jalur Hukum
- Sentil Pernyataan Hotman Paris, PWI Pusat: Hormati Martabat Wartawan dan Kemerdekaan Pers
- Dikejar TNI AL, Mafia Internasional Buang Tas Isi Liqiuid Vape Yakuza ke Laut
Budidaya Kepiting Soka Binaan Pelindo di Pesisir Indramayu Tembus 958 Kg, Peluang Raup Cuan

Keterangan Gambar : Program budidaya kepiting soka binaan PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo di Desa Totoran, Kec. Pasekan, Kab. Indramayu, telah menghasilkan 958 kilogram kepiting. Foto: Pelindo
Indonesiamaritimenews.com (IMN), INDRAMAYU: Program budidaya kepiting soka binaan PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo di Desa Totoran, Kec. Pasekan, Kab. Indramayu, telah menghasilkan 958 kilogram kepiting. Sejak panen perdana pada November 2025 hingga April 2026, nilai penjualan mencapai Rp103,6 juta.
Siaran resmi Pelindo yang dilansir Jumat (17/7/2026) disebutkan, pencapaian itu membuka peluang pendapatan baru bagi kelompok tani dan masyarakat pesisir yang terlibat dalam rantai usaha budidaya kepiting soka. Petani dan pembudidaya kepiting berpotensi meraup cuan bila bisnis ini dikelola dengan baik.
Hasil budidaya juga mencatatkan tingkat kelangsungan hidup (survival rate) sebesar 77,41 persen, melampaui target awal program sebesar 65 persen. Sedangkan produksi kepiting soka bisa mencapai sekitar 45 ekor atau 6,1 kilogram per hari. Kepiting soka dipasarkan kepada mitra eksportir dan pasar domestik.
Baca Lainnya :
- Paus Bungkuk Terdampar di Pantai Perancak Bali, Tak Kuat Bertahan Hidup0
- Peduli Lingkungan Laut, Pelindo Regional 2 Banten Gelar Konservasi Terumbu Karang di Pulau Merak Besar0
- Indonesia dan Inggris Luncurkan 3 Instrumen Teknis Ekosistem Maritim Rendah Karbon0
- Kembangkan Inovasi Ekosistem Karbon Biru, KKP Gandeng Perusahaan Amerika0
- Harga BBM Khusus Kapal 30-200 GT per Liter Rp15.000, KKP: Jaga Stabilitas Produksi dan Daya Saing0
Capaian tersebut menjadi salah satu fokus kunjungan lapangan dan dialog pemberdayaan masyarakat yang dilakukan Pelindo bersama Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship (LPA2I) IPB di Desa Totoran. Kegiatan ini dilakukan untuk mengevaluasi perkembangan program sekaligus menyusun strategi penguatan kelembagaan, kapasitas produksi, dan akses pasar.
Program TJSL Pelindo
Program pengembangan desa komoditas berbasis budidaya kepiting soka ini dimulai pada Juli 2025 melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pelindo. Dalam pelaksanaannya, Pelindo membangun demonstration pond atau demplot budidaya berbasis Recirculating Aquaculture System (RAS) berkapasitas 5.000 crab box di atas lahan tambak seluas sekitar 1.717 meter persegi.
Fasilitas tersebut dikelola oleh Kelompok Tani Pancer Berkah Bersama dan dimanfaatkan sebagai pusat pembelajaran, produksi, serta pengembangan usaha budidaya kepiting soka.
Group Head Keberlanjutan Korporasi Pelindo, Usman Saroni, mengatakan pengembangan Desa Totoran merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk mendorong pemanfaatan potensi maritim yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat pesisir.
“Pelindo memandang potensi maritim Indonesia tidak hanya dari sisi kepelabuhanan, tetapi juga dari masyarakat pesisir yang menjadi bagian penting dalam ekosistem maritim. Melalui program ini, kami mendorong pengembangan komoditas unggulan daerah agar semakin produktif, memiliki daya saing, dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ujar Usman.
Pendampingan yang diberikan tidak hanya berfokus pada aspek produksi, tetapi juga mencakup peningkatan kemampuan teknis budidaya, pengelolaan kelembagaan, pencatatan keuangan, serta persiapan akses pasar domestik dan ekspor.
Penerapan teknologi RAS memungkinkan pengelolaan kualitas air dan lingkungan budidaya dilakukan secara lebih terkontrol. Teknologi tersebut, disertai pendampingan teknis dan penguatan akses pasar, turut mendukung peningkatan produktivitas serta konsistensi hasil budidaya.
Dampak program juga dirasakan oleh masyarakat di sekitar lokasi budidaya. Selain meningkatkan pendapatan anggota kelompok tani, kegiatan ini membuka peluang ekonomi bagi pencari benih kepiting atau pengobor, tenaga kerja harian, serta kelompok perempuan yang terlibat dalam pengolahan hasil perikanan.
Program tersebut turut mendorong perbaikan tata kelola organisasi Kelompok Tani Pancer Berkah Bersama. Kelompok kini telah memiliki struktur organisasi dan pembagian tugas yang lebih jelas, serta menjalankan administrasi dan pencatatan keuangan secara aktif.
Masyarakat Terbantu
Sementara itu Ketua Kelompok Tani Pancer Berkah Bersama, Carma, mengatakan pendampingan Pelindo bersama LPA2I IPB telah membantu kelompoknya meningkatkan kemampuan budidaya dan pengelolaan usaha.
“Yang paling kami rasakan bukan hanya bantuan sarana, tetapi juga pendampingannya. Kami belajar membudidayakan kepiting soka, mengelola usaha, dan membangun akses pasar. Saat ini produksi sudah lebih stabil dan kami berharap usaha ini dapat terus menjadi sumber mata pencaharian bagi masyarakat Desa Totoran,” tutur Carma.
Usman menambahkan, capaian program di Desa Totoran menunjukkan bahwa pemberdayaan berbasis potensi lokal dapat menghasilkan dampak ekonomi apabila dijalankan melalui pendampingan yang konsisten dan kolaborasi antarpemangku kepentingan.
“Pelindo ingin mendorong masyarakat agar tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi berkembang menjadi pelaku usaha yang mandiri dan memiliki kapasitas untuk mengelola komoditas unggulan daerah. Ke depan, penguatan kemandirian penyediaan benih, peningkatan kapasitas produksi, dan perluasan jejaring pasar akan menjadi bagian dari pengembangan program,” tutup Usman.
Program pengembangan Desa Totoran merupakan bagian dari penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) Pelindo serta mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB/SDGs), khususnya SDG 1 tentang Tanpa Kemiskinan, SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. (Arry/Mar)











