- Kejurnas Karate Kasal Cup V-2026 Digelar, TNI AL Ajak Petarung dan Karateka Muda Daftar
- Terminal Teluk Lamong Tingkatkan Daya Saing Industri Nasional dan Global, Segini Target 2026
- PELNI Rampungkan SisKomKap di 25 Kapal Penumpang, Konektivitas Pelayaran Lebih Optimal
- Disergap TNI AL, Kapal Penyelundup Balpress dan Rokok Bodong Tak Berkutik
- KNMP di NTT-NTB Mampu Dongkrak Ekonomi Daerah Rp29,2 Miliar Tiap Tahun
- Angkutan Lebaran 2026, Menhub Cek Kesiapan Armada Kapal dan Pelabuhan di Maluku Utara
- Menteri Trenggono Dorong Pengembangan Budidaya Kerang Mutiara di Pulau Bungin
- PTP Nonpetikemas Cabang Banten, Ekspor Perdana Wind Mill Tower ke Kanada
- Sertifikasi Kompetensi Digital, IPC TPK Dorong Generasi Muda Pesisir Mandiri
- Arus Logistik Meningkat, Merauke Butuh Depo Peti Kemas di Luar Pelabuhan
Biaya Logistik Indonesia Mahal, Berada Peringkat 61 di Bawah Vetnam, ini Solusi Aplikasi TITIP

Keterangan Gambar : Dari kiri RanggaMaharga Wright Patners, Fernando Budiargo Founding Team, Azis Muttaqien Wakil Kepala Badan Logistik dan Rantai Pasok KADIN, Ziv Ragowsky Wright Patners . Foto: Property of Indonesiamaritimenews.com
Indonesiamaritimenews.com (IMN), JAKARTA: Industri logistik Indonesia masih tertinggal dibanding negara-negara di ASEAN. Salah satu penyebabnya, sistem manual, pengurusan dokumen yang mendongkrak biaya tinggi.
Berdasarkan Logistics Performance Index (2023) yang diterbitkan oleh Bank Dunia, Indonesia masih berada di peringkat 61, di bawah negara tetangga seperti Malaysia di 26, Thailand di 34, dan Vietnam di 43.
Hal ini menunjukkan masih banyak yang perlu ditingkatkan dari industri logistik Indonesia untuk mengejar ketertinggalan.
Baca Lainnya :
Beberapa masalah yang saat ini hadir di dunia logistik adalah adanya mismatch antara supply and demand kebutuhan logistik. Ketidaksesuaian ini mengakibatkan tingkat utilisasi moda transportasi yang dimiliki pemilik kapal tidak optimal.
Hal ini dibarengi dengan proses dokumentasi yang belum sepenuhnya efisien adalah beberapa penyebab tingginya biaya logistik di Indonesia.
Salah satu founding partner dari Wright Partners, Ziv Ragowsky bersama Rangga Maharga menjelaskan: biaya logistik di Indonesia adalah salah satu yang paling mahal di dunia sebesar 23.5% dari PDB.
Kondisi ini masih tertinggal dari negara tetangga seperti Thailand di angka 14% dan Vietnam 18%. Kehadiran TITIP diharapkan akan dapat mendorong peningkatan kapabilitas logistik Indonesia sehingga dapat berjalan dengan lebih efisien dan mendorong biaya logistik lebih rendah.
Terlebih lagi untuk sektor logistik komoditas yang melibatkan pengiriman dari lokasi remote yang saat ini masih belum banyak tersentuh oleh digitalisasi dan startup teknologi di Indonesia.
Salah satu upaya untuk mengatasi keterbatasan ini adalah melalui penerapan teknologi yangditujukan untuk menjawab tantangan ini. Inovasi inilah yang ingin dihadirkan oleh TITIP melalui solusi teknologi end-to-end untuk menjawab kebutuhan dari pemilik kargo dan pemilik kapal, serta mendorong proses operasi logistik maritim yang lebih efisien serta lebih transparan.
TEKNOLOGI LOGISTIK
Menurut Business Development Manager TITIP, Fernando Budiargo, di platform TITIP, pengguna akan dapat mengiklankan kargo/kapal mereka dan mencari kargo/kapal sesuaikebutuhan.
"Pengguna juga akan melakukan transaksi logistik end-to-end secara digital mulai dari pemesanan, penyusunan kontrak, pelacakan hingga pelunasan transaksi,” kata Fernando.
“TITIP menghadirkan serangkaian teknologi logistik seperti matchmaking algorithm, digitalcontracting, real-time monitoring melalui geolocation, dan digital documentation yang8 telahterintegrasi dalam satu platform yang dapat diakses dengan mudah oleh pengguna," terang Fernando Budiargo di sela-sela grand launching TITIP yang berlangsung di event SEA Indonesia JI Expo Kemayoran, Senin (15/5/2023).
Fernando Budiargo menambahkan, dengan menggunakan TITIP, pengguna akan mendapatkan banyak manfaat yang diperoleh. Antara lain, peningkatan skala bisnis melaluiperluasan jaringan usaha serta meningkatkan kapasitas operasi melalui pencarian kapal tambahan dari jaringan pengguna TITIP yang terverifikasi.
Azis Muttaqien Wakil Kepala Badan Logistik dan Rantai Pasok KADIN ( Kamar Dagang dan Industri Indonesia) mendukung kehadiran TITIP yang memberikan solusi Logistik Indonesia. Kehadiran Teknologi TITIP diharapkan meningkatkan dan melancarkan Logistik Indonesia serta lebih efisien.(Oryza/MAR)











