- Permanent Make Up Indonesia Festival 2026, Wamenaker Tekankan Pentingnya Sertifikasi Profesi
- Tuntas Pemadaman KMP Batumandi, Kemenhub Kerahkan KN Trisula P.111 untuk Pendinginan
- IPC TPK Gandeng Mitra Operasional Deklarasi Pelabuhan Bersih Bebas Pungli
- Heboh Lagi Kebakaran Kapal Berbendera Indonesia: Analisis Kasus Kebakaran KMP Batumandi
- Kondisi Kapal KMP Batumandi Kini, Penanganan Korban Luka Bakar, Anak-anak dan Lansia
- Menhub Minta Polri-KNKT Usut Kebakaran KMP Batumandi, Kapolri: Kami akan Selidiki
- Lewat Karirhub, Kemnaker dan Universitas Harkat Negeri Jembatani Kampus dan Industri
- InaSkills 2026 Digelar 26-31 Oktober, Jaring Talenta Keterampilan Nasional
- Jaga Pesisir Pantura, Pelindo Dukung Pemulihan Ekosistem Mangrove di Demak
- Jajaran Komisaris PELNI Temui Kasal Laksamana TNI Muhammad Ali di Mabesal Cilangkap
Tambak BUBK Kebumen Panen Lagi, Total Produksi 46 Ton Udang Vaname

Keterangan Gambar : Kawasan Budidaya Udang Berbasis Kawasan (BUBK) yang dibangun Kementerian Kelautan dan Perikanan di Kebumen, Jawa Tengah, sukses mencatatkan panen lanjutan sebanyak 46 ton udang vaname. Foto: KKP
Indonesiamaritimenews.com (IMN), KEBUMEN: Kawasan Budidaya Udang Berbasis Kawasan (BUBK) yang dibangun Kementerian Kelautan dan Perikanan di Kebumen, Jawa Tengah, sukses mencatatkan panen lanjutan sebanyak 46 ton udang vaname.
Jumlah panen tersebut berasal dari panen parsial pada 32 petakan tambak. Panen kali ini merupakan siklus produksi ke delapan yang diharapkan menjadi pendorong tumbuhnya industri udang nasional yang modern dan berkelanjutan.
“Alhamdulillah, produksi terus meningkat dan kualitas udang sangat baik. Ini bukti bahwa sistem budidaya yang dijalankan sudah sesuai standar, termasuk pengelolaan lingkungan melalui IPAL,” ujar Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya Kementerian Kelautan dan Perikanan, Tb Haeru Rahayu, dalam siaran resmi di Jakarta, Minggu (3/5/2026).
Tebe, sapaan akrab Tb Haeru, turun langsung meninjau kegiatan panen di Desa Tegalretno, Kecamatan Petanahan pada Jumat (1/5) kemarin. Dia mengapresiasi capaian tersebut sekaligus memastikan penerapan standar Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) berjalan optimal.
Secara bertahap, produksi BUBK Kebumen menunjukkan tren positif. Dari total 139 kolam, seluruhnya saat ini beroperasi aktif. Memasuki siklus kedelapan, panen parsial telah dilakukan sebanyak tiga kali, masing-masing sebesar 12 ton, 15 ton, dan meningkat menjadi 19 ton. Secara akumulatif, total produksi sementara mencapai 46 ton dari 32 petak tambak, dengan ukuran udang berkisar size 35–40.
Tak hanya dari sisi kuantitas, kualitas udang juga dinilai unggul dan memenuhi standar pasar, bahkan menarik minat pembeli yang datang langsung ke lokasi. Kondisi ini menjadi indikator kuat keberhasilan sistem budidaya yang efisien dan terkontrol.
Penanggung jawab teknis BUBK Kebumen, Iwan Sumantri, menegaskan bahwa pengelolaan lingkungan menjadi prioritas utama dalam operasional tambak. “Sistem IPAL berjalan dengan baik. Indikatornya terlihat dari kualitas air yang tetap terjaga dan tidak menimbulkan dampak bagi lingkungan. Ini menjadi komitmen kami agar budidaya tetap produktif sekaligus berkelanjutan,” jelas Iwan.
Ia menambahkan, seluruh proses mulai dari intake, tandon, hingga on-farm dan IPAL dijalankan sesuai standar operasional untuk memastikan keberlanjutan produksi dan keamanan lingkungan.
BUBK Kebumen juga berperan sebagai pusat pembelajaran bagi pembudidaya. Kehadirannya mendorong transfer teknologi, peningkatan kapasitas SDM, serta membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar.
Salah satu petambak lokal, Andes Wahyabremudho, mengaku merasakan manfaat langsung dari keberadaan BUBK. Selain peningkatan pengetahuan teknis, kolaborasi antarpetambak juga semakin kuat dan produktivitas usaha meningkat signifikan.
“Dengan adanya BUBK, kami bisa banyak belajar dari sisi teknis. Ilmu baru, sharing dengan tim teknis, sampai peningkatan kualitas budidaya sangat terasa. Dampak positifnya jauh lebih banyak,” ungkap Andes.
Ia menambahkan, keberadaan kawasan ini juga membuka peluang kolaborasi antarpetambak serta mendorong peningkatan hasil produksi secara berkelanjutan.
Sebelumnya Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono optimis industri udang nasional akan terus tumbuh, seiring tingginya permintaan pasar global akan komiditas tersebut. Untuk itu, KKP melahirkan sejumlah program untuk peningkatan produktivitas pembudidaya, salah satunya modeling budidaya udang berbasis kawasan yang proses produksinya mengedepankan teknologi dan ramah lingkungan. (Arry/Mar)











